Kamis, 23 Maret 2017
Kamis, 02 Februari 2017
SARO-SARO
Kembang dipupuk kembang
Kembang berbunga melati
Jauh memandang langkah
bertandang
Kampung halaman kukenang dihati
Siapa tak ingin mencium bau tanah
lahirnya? Siapa tak ingin menceburkan diri dalam birunya Hol Sulamadaha? Siapa
tak ingin menghirup semerbak rempah primadona bunga cengkeh di ujung pohonnya,
lalu berteriak ‘Us-us uweee’ sekencang-kencangnya mengusir babi? Apalah daya,
semua kemewahan itu tak gratis jika aku
di sini. Terperangkap di atas tanah dan air yang bukan tumpah darahku. Aku
adalah orang asing di tanah asing, sekaligus di tanah kelahiran.
Angin Februari mulai bertiup,
matahari dan bulan datang dan pergi. Tapi tidak olehku. Aku masih belum
beranjak. Masih melekat di atas bumi Majapahit. Delapan tahun lalu, kutorehkan
sebuah keputusan. Bukan memutus, tapi menyambung hidup tanpa meneruskan beban.
Kutinggalkan kampung dan para manusia yang menemaniku hidup di seperlima abad. Lalu
perlahan, jejakku, ragu dan airmata orang kampung atas kepergianku, hilang disapu
hujan vulkanik Duko Kie Gamalama.
Di Sabtu sore yang gerimis, seorang kurir
kantor post menemuiku. Di tangannya memegang sebuah amplop cokelat.
Jumat, 27 Januari 2017
MALOYA
(Bagian 2)
2. Mabari Bualawa
Asap mengepul di tungku dapur.
Mutaf, lelaki remaja tengah menambah potongan kayu bakar. Ia merebus air. Di
dapur ia tak sendiri. Una sibuk dengan sapu ijuk ditangannya. Membersihkan
lantai tanah dari kulit pinang dan sisa kupasan singkong yang dagingnya telah
diambil Mina untuk digoreng.
Pagi ini cukup cerah. Langit
bersih dari awan putih pun kelabu. Matahari masih malu-malu keluar dari selimut
rerimbunan pohon sukun. Empat orang lelaki tampak berlarian kecil masuk ke
rumah Mina dan Una.
“Om, jam berapa tong[1]
barangkat” Tanya Ulis. Umurnya 16
tahun, 2 tahun diatas Mutaf. Senyum sumringah dengan gigi putih yang
dipamerkan, kontras sekaligus eksotik dari warna kulitnya yang gelap.
Kamis, 26 Januari 2017
MALOYA[1]
(Bagian I)
1 Pemilik Malam
Terjaga
di dini hari adalah kutukan bagi setiap orang! Apalagi hingga menyapa mentari.
Mati di dini hari yang basah ialah kemewahan setiap mahkluk hidup selain Paniki[1].
Tapi Paniki rupanya punya sepasang
kawan manusia yang acapkali menemaninya di dua per tiga malam. Bagi sepasang
manusia kawan paniki itu, dini hari
adalah titik awal kehidupan. Modal menghidupi hidup.
Sepasang
manusia itu bernama Mina dan Una. Kesamaan antara Paniki, Mina dan Una adalah ketiganya menjadikan dini hari sebagai
waktu mempersiapkan nafas esok hari. Namun,
mereka begitu berbeda. Paniki ditakdirkan
sebagai mahkluk kesayangan tuhan. Ia tidur nyaman jika sang surya mulai
menampakan wajahnya. Akan tetapi, si Mina dan Una akan tidur jika mentari
nyaris ditelan bumi. Seakan hidupnya ditakdirkan untuk tak tidur. Mereka takkan
nyaman dimanja malam.
Minggu, 25 Desember 2016
Selamat Natal Diane
![]() |
| http://www.gettyimages.co.uk |
Aku masih ingat. 20 tahun yang lalu. Sore
itu hujan. Kau datang dengan basah kuyup ke rumahku. Meminta izin orang
tuaku agar aku bisa ke rumahmu. Mereka
mengizinkan. Kau kayuh sepeda dan memboncengiku dalam hujan yang lebat.
Kita tertawa, dan sengaja bermain air. Genangan-genangan air di jalanan
ditebas ban sepeda, merubah warna putih celanamu menjadii cokelat.
Sesampai di rumahmu, bergegas dua pasang baju dan teh hangat diberikan
ibumu. Setelah itu, yang ditunggu-tunggu tiba. Saatnya merias pohon
natal. Aku paling suka ini. Sama seperti kau suka membantuku menyiapkan
ketupat untuk lebaranku.
kepala sekolah, rumah bu Maria, dan masih banyak lagi. Tambaru.
Ahay...
Sebuah tradisi disetiap Iedul Fitri, Iedul Adha dan Natal. Ini hanya
tradisi anak-anak SD seperti kita kala itu. Datang ke rumah yang
merayakan hari raya, menyalami dan memberi selamat, lalu meminta angpao
ke tuan rumah.

Langganan:
Postingan (Atom)

