Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juli 2018

Singa Ompong dan Malaikat Kecil Di Semesta Individualis


Rasanya sudah pegal pantatku duduk dikursi roda berjam-jam di bandara Ujung Pandang. Aku penumpang transit hendak lanjut ke Kalimantan. 

“Banjarmasin, Banjarmasin, Banjarmasin” suara petugas gate memanggil penumpang Banjarmasin. Tiba-tiba depan gate 6 penuh dengan kerumunan manusia bertampang cemas dan lelah.

“Ah, belum juga berangkat. Sial! Ini Lion giliran kita yang telat check in, tiket hangus. Lah, kalo giliran mereka delay suka-suka mereka. Bangkek!” maki seorang lelaki paruh baya yang tengah menggendong anak balita perempuan. Matanya menatap tajam, kesal, pada petugas gate itu.

“Maaf, pak. Ini (delay) karena persoalan operasional” laki-laki petugas yang tingginya kira-kira kutaksir lebih tinggi sejengkal dariku mencoba menjelaskan pada pria itu.

Senin, 02 Oktober 2017

Hidup Macam Apa?



ilustrasi : https://id.pinterest.com/pin/491173903084337659/
Bagaimana rasanya jika indramu tak peka?
Tak peka pada apa yang harus menjadi fungsinya
Tidak. Bukan sebatas fungsi indrawi.
Tapi lebih dari itu.

Mata tak hanya untuk bisa melihat indahnya dunia
Pernahkah kau melihat dunia yang buruk?
Melihat kelaparan
Melihat kematian pada seorang bocah yang mati bukan karena sudah waktunya mati
Tapi terpaksa mati hanya karena untuk sembuh tak bisa dibayar dengan senyum ‘terima kasih’ belaka

Minggu, 20 Agustus 2017

Rekreasi Juga Hak Difabel, Sudahkah Terpenuhi?

Pagi-pagi, grup WA Difabel Banua Bersatu sudah rame.

"Kami sudah kumpul di Menara Pandang" Pak Slamet, ketua PPDI Kota Banjarmasin mengabari.

"Mana nih mbak Dhede?" tanya Siah, seorang difabel daksa yang walau baru abis operasi rahim, semangatnya gak pernah padam.

"Ibu Dhede, Hadangi (tunggu) bubuhan (teman2) tuli mau ke sini" pinta Rini, seorang difabel ruwi.
Aku ketawa membaca komen-komen mereka di WA. Ibu? wkwkwkwk... Emang begitu cara teman-teman Tuli menghargai orang lain, walau pernah ku minta panggil 'Dhede' saja. Bisa jadi karena wajahku yang terlalu boros.


"Bentar ya, aku dibelakang teman-teman. Lagi ngobrol sama teman-teman LBH" kataku.

Tak lama, kami pun ngumpul. Komplit difabelnya. :D Ada yang daksa polio, cerebral palsy, netra, ruwi, paraplegy, dengan berbagai alat bantu yang mereka gunakan. Ada juga yang tidak menggunakan alat bantu.

Minggu, 16 Juli 2017

Anak Tangga dan Kemanusiaan

Seminggu ini naik turun tangga fasilitas publik untuk sebuah kepentingan kegiatan. Ada yang dua lantai, dan yang paling sering tiga lantai. Berhubung 'Si Kiri' sedang ngambek selama setahun ini, aku harus jeda 2 menit untuk ambil napas, istirahat berulang-ulang. Jalan 10 langkah, istirahat lagi. Di situasi kek gini, teman jalan yang baik, si kruk, malah kelupaan di rumah Ternate.

Desahan pasrah keluar begitu saja setiap memandang ke atas puluhan anak tangga yang berjejer rapi bak parade pasukan baris berbaris di 17 Agustus. Untuk menghibur diri, aku berbisik dalam hati, bahwa si pembuat bangunan

Senin, 29 Mei 2017

Selangkangan!



Manusia macam apa kau?
Memerah hasrat lalu bilang spontan sakau?
Otakmu sungguh kacau!!

Jika pun hanya sekali  aku tak ampuni
Apalagi dua kali kupergoki
Penismu menari-nari
Pantat yang terbungkus kain pun kau coba jejali
Lantas kau bilang tak sadari?
BABI!!!



Jogja, 29 Mei 2017 

Minggu, 14 Mei 2017

Sastrawan Selangkangan (SS)



Seorang pemerkosa
Seorang penyair pemerkosa
Seorang penyair memperkosa
Seorang penyair memperkosa seorang perempuan
Seorang penyair memperkosa seorang perempuan dan tak mau mengakuinya
Seorang penyair memperkosa seorang perepuan dan tak mau mengakuinya, lalu kini leluasa berkarya
Ia pemerkosa yang dibiarkan tetap menjadi penyair

Kamis, 23 Maret 2017

Tanah dan Seorang Terpelajar




Dok. #Save Taliabu
Seorang terpelajar bertanya pada bapaknya
Wahai bapak, kenapa begitu angkuh engkau menjual tanah kita
Pada para kompeni-kompeni dan darah biru?
Taukah engkau  bahwa mereka adalah tuan-tuan serakah?
Mereka akan merubah tanah ini menjadi api dan lautan darah  para balakusu

Kamis, 02 Februari 2017

SARO-SARO





Kembang dipupuk kembang
Kembang berbunga melati
Jauh memandang  langkah bertandang
Kampung halaman kukenang  dihati

Siapa tak ingin mencium bau tanah lahirnya? Siapa tak ingin menceburkan diri dalam birunya Hol Sulamadaha? Siapa tak ingin menghirup semerbak rempah primadona bunga cengkeh di ujung pohonnya, lalu berteriak ‘Us-us uweee’ sekencang-kencangnya mengusir babi? Apalah daya, semua kemewahan  itu tak gratis jika aku di sini. Terperangkap di atas tanah dan air yang bukan tumpah darahku. Aku adalah orang asing di tanah asing, sekaligus di tanah kelahiran. 

Angin Februari mulai bertiup, matahari dan bulan datang dan pergi. Tapi tidak olehku. Aku masih belum beranjak. Masih melekat di atas bumi Majapahit. Delapan tahun lalu, kutorehkan sebuah keputusan. Bukan memutus, tapi menyambung hidup tanpa meneruskan beban. Kutinggalkan kampung dan para manusia yang menemaniku hidup di seperlima abad. Lalu perlahan, jejakku, ragu dan airmata orang kampung atas kepergianku, hilang disapu hujan vulkanik Duko Kie Gamalama.

Di Sabtu sore yang gerimis, seorang kurir kantor post menemuiku. Di tangannya memegang sebuah amplop cokelat.

Jumat, 27 Januari 2017

MALOYA


(Bagian 2)

2.    Mabari Bualawa


Asap mengepul di tungku dapur. Mutaf, lelaki remaja tengah menambah potongan kayu bakar. Ia merebus air. Di dapur ia tak sendiri. Una sibuk dengan sapu ijuk ditangannya. Membersihkan lantai tanah dari kulit pinang dan sisa kupasan singkong yang dagingnya telah diambil Mina untuk digoreng.

Pagi ini cukup cerah. Langit bersih dari awan putih pun kelabu. Matahari masih malu-malu keluar dari selimut rerimbunan pohon sukun. Empat orang lelaki tampak berlarian kecil masuk ke rumah Mina dan Una. 

“Om, jam berapa tong[1] barangkat” Tanya Ulis. Umurnya 16 tahun, 2 tahun diatas Mutaf. Senyum sumringah dengan gigi putih yang dipamerkan, kontras sekaligus eksotik dari warna kulitnya yang gelap. 

Kamis, 26 Januari 2017

MALOYA[1]

(Bagian I)

1     Pemilik Malam




Terjaga di dini hari adalah kutukan bagi setiap orang! Apalagi hingga menyapa mentari. Mati di dini hari yang basah ialah kemewahan setiap mahkluk hidup selain Paniki[1]. Tapi Paniki rupanya punya sepasang kawan manusia yang acapkali menemaninya di dua per tiga malam. Bagi sepasang manusia kawan paniki itu, dini hari adalah titik awal kehidupan. Modal menghidupi hidup.

Sepasang manusia itu bernama Mina dan Una. Kesamaan antara Paniki, Mina dan Una adalah ketiganya menjadikan dini hari sebagai waktu mempersiapkan nafas esok hari. Namun, mereka begitu berbeda. Paniki ditakdirkan sebagai mahkluk kesayangan tuhan. Ia tidur nyaman jika sang surya mulai menampakan wajahnya. Akan tetapi, si Mina dan Una akan tidur jika mentari nyaris ditelan bumi. Seakan hidupnya ditakdirkan untuk tak tidur. Mereka takkan nyaman dimanja malam.

Minggu, 25 Desember 2016

Selamat Natal Diane

http://www.gettyimages.co.uk
Aku masih ingat. 20 tahun yang lalu. Sore itu hujan. Kau datang dengan basah kuyup ke rumahku. Meminta izin orang tuaku agar aku bisa ke rumahmu. Mereka mengizinkan. Kau kayuh sepeda dan memboncengiku dalam hujan yang lebat. Kita tertawa, dan sengaja bermain air. Genangan-genangan air di jalanan ditebas ban sepeda, merubah warna putih celanamu menjadii cokelat. Sesampai di rumahmu, bergegas dua pasang baju dan teh hangat diberikan ibumu. Setelah itu, yang ditunggu-tunggu tiba. Saatnya merias pohon natal. Aku paling suka ini. Sama seperti kau suka membantuku menyiapkan ketupat untuk lebaranku.

kepala sekolah, rumah bu Maria, dan masih banyak lagi. Tambaru. Ahay... Sebuah tradisi disetiap Iedul Fitri, Iedul Adha dan Natal. Ini hanya tradisi anak-anak SD seperti kita kala itu. Datang ke rumah yang merayakan hari raya, menyalami dan memberi selamat, lalu meminta angpao ke tuan rumah.

Kamis, 22 Desember 2016

Perempuanku


Seperti Biasa, jam 1 dini hari aku ditelepon kekasih. Itu rutinitas kami. Tidurku terganggu? O tidak. Justru senang. Inilah cara kami menumpahkan rindu, membunuh jarak.

Dia menelepon bukan hanya untuk minta diucapin 'Selamat Hari Ibu'. Dia dan kekasihnya setiap malam akan bangun jam 01.00, menyiapkan dagangan kue dan tak tidur lagi sampai dagangannya laku di pasar, lalu balik ke rumah, main dengan cucu, sekitar jam 2 siang, baru melengkapi tidur yang tertunda. Itu pun hanya sejam. Rutinitas ini sejak aku duduk di kelas 2 SD, saat kekasihnya mengalami kecelakaan di panen cengkeh tahun itu.

Ia akan mulai berkisah tentang cerita yang tidak ku ketahui. dari kisah langganannya yang baik hati, hingga kekasihnya yang memaksa diri bekerja keras padahal kesehatannya tidak memungkinkan lagi untuk bekerja keras. Kadang kisah pilu tak mau ia bagi, disimpannya rapat-rapat. Mereka berdua kompak. Butuh skill tersediri untuk membuat rahasia mereka terbongkar. Nada suaranya dibikin ceria, supaya aku tertipu. JIka sudah kudesak, dia mengawali cerita pilu pasti dengan kalimat "Tapi jangan bapikir e, mama deng papa bisa cara akal". O, Perempuan ku. Bagaimana bisa aku santai saja jika kau dan kekasihmu bergulat dengan masalah? Kau terlalu kuat untuk hidup di dalam sistem yang tidak manusiawi ini.

Senin, 07 November 2016

Bukan Salah Vagina



Tangannya masih melayang, menari di udara.
Seolah ada yang digapai hingga langit menengadah.
Hawa begitu panas, padahal di luar halilintar berlomba dengan gemuruh guntur
Menari dalam hujan.

Dunia bak kolam renang
yang tak lebar, tak luas, tak bisa membuat seseorang
tak berfikir melihat selangkangan.
Setidaknya itu yang kau kabarkan pada tabung-tabung kepalsuan,
pada ujung jemari yang tak henti menancap di layar sentuh.

Jumat, 13 Desember 2013

Surat Dari Che Guevara Untuk Kawan-Kawan Muda


Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di suatu Negara hanya akan terjadi di Negara itu saja. (Che Guevara)

Che Guevara
Che Guevara

Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian. Melewati jalan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus, dan punya mobil mengkilap. Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan dan sekolah yang kini kian mahal. Buang segala teori social yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidak membuat kita paham dan mau membela orang yang miskin. Ku pilih tinggal serta berjuang di hutan karena disana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.

Andai aku masih bisa di beri kesempatan untuk kembali ke negeri mu pastilah aku enggan untuk duduk di kursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin. Akan kusapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapatkan uang receh. Akan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi dengan pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan ku bantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya untuk menjinjing alat-alat berat. Dan akan ku teman para buruh pabrik yang masih saja di ancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Ku rasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu.

Kuli

Buruh pabrik garmen
(bagian I)

Mamaku sayang…
Sudah jangan bawel dan marah-marah
Seharian aku telah dimarahi mandor dan supervisor
Katanya kerjaanku lambat, nanti perusahaan rugi besar
Upahku yang kecil itu bisa dipotong lagi

Suamiku tercinta….
Sudah jangan suruh aku bersihkan dapur dan piring sisa makan malam mu
Jangan pula minta kulayani hasratmu malam ini

Kamis, 26 September 2013

Gadis Periku...

The Next Marsinah ^.^
Yang harus selalu kamu ingat
Dunia masih tak adil pada kita
Ekuimene yang tengah kamu dan aku pijak
Ada dajjal yang berkuasa seperti dongeng-dongeng
Yang sering kuceritakan dulu
Tapi, dajjal kali ini nyata dan tentunya lebih jahat dan seram
Dia tidak mau cerita hidup kita endingnya happy seperti dongeng-dongeng itu

Yang  harus kamu tahu
Selang infus dan oksigen
Yang tengah melilit tubuhmu
(pun) dikuasai oleh dajjal itu
Hingga  dua orang tua yang telah bungkuk punggungnya
Harus bertambah bungkuk
Agar angka-angka di puluhan kertas merah
Bisa menyehatkanmu
Sebab dajjal tak inging kamu sehat
Hanya dengan senyum manismu
Sebagai imbalannya.
Dia tak sudi!

Senin, 09 September 2013

"Sang Popaco"

Sebuah prosa muncul dalam era romantik
Yang transenden lengah berhadapan dengan antroposentris
Tatkala bab per bab mendeskripsikan laku filsafat, spektrum general, narasi skriptualitas mengemuka diatas cadasnya kehidupan
Tesis dan antitesis, dua rangkaian yang saling mengandaikan dan menegasi
Hubungan resiprokal terjewantahan pada diferensiasi lalu menjatuhkan koma, koma dan koma
Ketika berhenti pada batas titik, tak terjawab lagi

“Ponoso”
Aku kenal dengan nama ini
Nama yang terus ku sebut
Nama yang menenggelamkanku dalam pigura cinta

Jumat, 26 April 2013

Organiserku, Papaku..


Nyanyian malam itu ku rindu
“Jangan ada jarak diantara kita, nanti ada dusta”
Begitulah sepotong syair menina-bobokan ku dalam pelukanmu
Rambutku yang berantakan, dengan hati-hati kau rapikan
Segelas teh panas di pagi hari telah tersedia, mengantarkanku ke sekolah
Senyum manismu dari atas genteng rumah menyambutku
“Bagaimana sekolahmu hari ini, sayang?”
Jadilah kakak, jadilah yang terdepan, jadilah dewasa jadilah pemimpin
Itulah pesan didikanmu seiring bertambah usiaku.
Susah, sedih, duka, kau libatkan aku sedari balita
Sebab itu lah aku paham kau tengah mengajarkanku tentang dunia

Papa..
Kehidupan asmaramu indah
Aku pun cemburu dan iri melihat cintamu pada sang kekasihmu, Sang Mama
Memang, Kau tak lah sempurna. Kadang cemburu, ngambek, mau diperhatiin kekasihmu
Tapi itulah keindahan cinta Kalian
Kamu pernah memarahiku
Pernah kita tak bertegur sapa selama 2 hari
Kau biarkan aku bingung mencari cara minta maaf padamu
Ahh,, Sungguh, tak akan ku ulangi hal itu lagi