Minggu, 16 Juli 2017

Anak Tangga dan Kemanusiaan

Seminggu ini naik turun tangga fasilitas publik untuk sebuah kepentingan kegiatan. Ada yang dua lantai, dan yang paling sering tiga lantai. Berhubung 'Si Kiri' sedang ngambek selama setahun ini, aku harus jeda 2 menit untuk ambil napas, istirahat berulang-ulang. Jalan 10 langkah, istirahat lagi. Di situasi kek gini, teman jalan yang baik, si kruk, malah kelupaan di rumah Ternate.

Desahan pasrah keluar begitu saja setiap memandang ke atas puluhan anak tangga yang berjejer rapi bak parade pasukan baris berbaris di 17 Agustus. Untuk menghibur diri, aku berbisik dalam hati, bahwa si pembuat bangunan

Senin, 29 Mei 2017

Selangkangan!



Manusia macam apa kau?
Memerah hasrat lalu bilang spontan sakau?
Otakmu sungguh kacau!!

Jika pun hanya sekali  aku tak ampuni
Apalagi dua kali kupergoki
Penismu menari-nari
Pantat yang terbungkus kain pun kau coba jejali
Lantas kau bilang tak sadari?
BABI!!!



Jogja, 29 Mei 2017 

Minggu, 14 Mei 2017

Sastrawan Selangkangan (SS)



Seorang pemerkosa
Seorang penyair pemerkosa
Seorang penyair memperkosa
Seorang penyair memperkosa seorang perempuan
Seorang penyair memperkosa seorang perempuan dan tak mau mengakuinya
Seorang penyair memperkosa seorang perepuan dan tak mau mengakuinya, lalu kini leluasa berkarya
Ia pemerkosa yang dibiarkan tetap menjadi penyair

Kamis, 23 Maret 2017

Tanah dan Seorang Terpelajar




Dok. #Save Taliabu
Seorang terpelajar bertanya pada bapaknya
Wahai bapak, kenapa begitu angkuh engkau menjual tanah kita
Pada para kompeni-kompeni dan darah biru?
Taukah engkau  bahwa mereka adalah tuan-tuan serakah?
Mereka akan merubah tanah ini menjadi api dan lautan darah  para balakusu

Kamis, 02 Februari 2017

SARO-SARO





Kembang dipupuk kembang
Kembang berbunga melati
Jauh memandang  langkah bertandang
Kampung halaman kukenang  dihati

Siapa tak ingin mencium bau tanah lahirnya? Siapa tak ingin menceburkan diri dalam birunya Hol Sulamadaha? Siapa tak ingin menghirup semerbak rempah primadona bunga cengkeh di ujung pohonnya, lalu berteriak ‘Us-us uweee’ sekencang-kencangnya mengusir babi? Apalah daya, semua kemewahan  itu tak gratis jika aku di sini. Terperangkap di atas tanah dan air yang bukan tumpah darahku. Aku adalah orang asing di tanah asing, sekaligus di tanah kelahiran. 

Angin Februari mulai bertiup, matahari dan bulan datang dan pergi. Tapi tidak olehku. Aku masih belum beranjak. Masih melekat di atas bumi Majapahit. Delapan tahun lalu, kutorehkan sebuah keputusan. Bukan memutus, tapi menyambung hidup tanpa meneruskan beban. Kutinggalkan kampung dan para manusia yang menemaniku hidup di seperlima abad. Lalu perlahan, jejakku, ragu dan airmata orang kampung atas kepergianku, hilang disapu hujan vulkanik Duko Kie Gamalama.

Di Sabtu sore yang gerimis, seorang kurir kantor post menemuiku. Di tangannya memegang sebuah amplop cokelat.